Jumat, 26 April 2013

KADERISASI dan KUALITAS KEPEMIMPINAN




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesame serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi dibanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.
Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.[1]
Pemimpin yang baik bukan di lihat dari seberapa banyak pengikutnya, dan seberapa lama ia memimpin, tapi terlihat dari seberapa banyak ia bisa menciptakan pemimpin-pemimpin baru.
Kaderisasi atau menciptakan pemimpin baru merupakan tugas besar dalam kepemimpinan, dimana kaderisasi kepemimpinan merupakan hal yang sangat penting dan vital di lingkungan organisasi.[2]
Kepemimpinan berlangsung dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kepemimpinan sebagai suatu proses dapat berlangsung di dalam dan di luar suatu organisasi. Kepemimpinan yang efektif merupakan proses yang dinamis, karena berlangsung di lingkungan suatu organisasi sebagai sistem kerjasama sejumlah manusia untuk mencapai tujuan tertentu, yang bersifat dinamis pula.[3]
Kepemimpinan yang efektif merupakan proses yang bervariasi, karena dipengaruhi oleh kepribadian pemimpin dalam mewujudkan hubungan manusiawi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Di dalam proses seperti itu kepemimpinan akan berlangsung efektif, apabila fungsi-fungsi kepemimpinan diwujudkan sesuai dengan type kepemimpinan yang mampu memberikan peluang bagi orang yang dipimpin, untuk ikut berperan serta dalam menetapkan dan melaksanakan keputusan-keputusan. Dengan demikian berarti setiap kreativitas dan inisiatif dalam kepemimpinan yang efektif harus disalurkan dan dimanfaatkan.[4]

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan kaderisasi kepemimpinan?
2.      Bagaimana hak asasi manusia dalam kepemimpinan?
3.      Bagaimana usaha-usaha untuk peningkatan kualitas kepemimpinan?

C.     TUJUAN MASALAH
1.      Untuk mmahami tentang kaderisasi kepemimpinan.
2.      Untuk mengetahui apa saja hak asasi dalam kepemimpinan.
3.      Untuk mengerti bagaimana usaha-usaha dalam peningkatan kualitas kepemimpinan.














BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENDAHULUAN
Kondisi kehidupan organisasi modern, terdapat cirri-ciri utama yang berpengaruh  ialah adanya kondisi yang menunjukan pertentangan atau saling berlawanan antara hal-hal seperti ; tuntutan organisasi dengan keinginan masing-masing anggota organisi, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cangih dengan sistm tradisional, stabilitas dan inovasi, keseragaman dengan perubahan, penyesuaian dengan kreativitas, perkembangan dinamika organisasi dengan birokrasi yang sempit dan sebagainya.[5]
Proses tersebut akan terus terjadi dan tidak pernah berhenti. Persoalan yang muncul adalah bagaimana pemimpin suatu organisasi itu dapat mengatasi dan menyeleraskan segala macam kontradiksi tersebut untuk mendukung tercapainya tujuan organisasi. Oleh karena itu diperlukan pemimpin yang efektip dan berkualitas yaitu seorang pemimpin yang mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta gerak masyarakat yang selalu berkembang dan terkadan perkembanganya terlalu cepat.
Sikap fleksibelityas pemimpin tercermin pada tiga unsur pokok  yaitu cocok, sejalan dan taat asas. Cocok dalam pengertian seorang pemimpin  selalu mengatur dan mengendalikan prilakunnya sesuai dengan situasi dimana proses kepemimpinan itu dilaksanakan. Sejalan dalam arti mengarahkan perilaku kepemimpinan sesuai dengan tugas dan kenyataan organisasi yang dipimpinya. Sedangkan taat asas yaitu ketaatan pada sikap atau konsisten pemimpin pada keperibadian dan keyakinanya.[6]
Kualitas kepemimpinan dapat dicapai apabila dalam diri seorang pemimpin tumbuh kesadaran dan pemahaman yang mendalam terhadap makna kepemimpinan beserta aspek-aspeknya seperti prinsip-prinsip, fungsi kepemimpinan.[7]
Seorang pemimpin yang baik diharapkan dapat memahami segala aspek prilaku kepemimpinan dan mengetahui kapan fungsi kepemimpinan diperlukan, pemimpin yang baik memiliki tiga kesadaran yaitu: pertama  sadar kapan pemimpin itu diperlukan dalam situasi tertentu. Kedua sadar akan perubahan nilai baik dalam lingkungan unit kerjanya masing-masing maupun dalam masyarakat. Ketiga sadar betapa pentingnya kepemimpinan yang efektif mampu mengerakan orang lain bekerja seefektif mungkin.
Untuk dapat mendapatkan pemimpin yang baik disaat sekarang dan masa depan perlu adanya kaderisasi kepemimpinan yang berkualitas sehingga dapat menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan mampu bertanggung jawab tampa KKN.[8]

B.     KADERISASI KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan mengacu pada sebuah proses untuk mengerakan sekeumpulan orang menuju ke suatu tujuan yang telah ditetapkan dengan mendorong mereka bertindak tampa memaksa. Kepemimpinan juga bukan sekedar penurunan sifat/bakat dari orang tua kepada anaknya, tetapi ditentuka oleh semua aspek keperibadian, sehingga dapat menjalankan kepemimpinan yang efektif yaitu:
1.      Intelegensi yang cukup tinggi
2.      Kemampuan melakukan analisis situasi dalam mengambilan keputusan.
3.      Kemampuan mengaplikasikan hubungan manusiawi yang efektif agar keputusan dapat dikomunikasikan.[9]
 Oleh sebab itu seseorang pemimpin berkewajiban memberikan kesempatan kepada orang-orang yang dipimpinya. Kesempatan yang diberikan tersebut merupakan kegiatan yang berisikan upaya-upaya yang mendukung bagi terbentuknya integritas keperibadian dan kemampuan mengerakan orang lain secara terus menerus sehingga dapat mempersiapkanya menjadi pemimpin langkah ini disebut kaderisasi.
Kaderisasi kepemimpinan adalah proses mempersiapkan seseorang menjadi pemimpin penganti di masa depan yang akan memikul tanggung jawab penting dan besar dalam lingkungan suatu organisasi. Mengapa kaderisasi diperlukan? Karena semua manusia termasuk yang sekarang menjadi pemimpin, suatu saat pasti akan mengakhiri kepemimpinanya, baik dikehendaki maupun tidak. Proses tersebut dapat terjadi karena:
1.      Adanya ketentuan periodeisasi kepemimpinan
2.      Adanya penolakan dari anggota kelompok yang menghendaki pergantian kepemimpinan baik wajar maupun tidak.
3.      Proses alamiah, menjadi tua dan kehilangan kemampuan memimpin
4.      Kematian
5.      Agar tersedia jumlah pemimpin yang berkualitas.[10]

Dalam pelaksanaanya proses kaderisasi terdiri dari dua macam yaitu:
1.        Kaderisasi Informal
Untuk melahirkan seseorang pem,impin yang berkualitas diperlukan proses jangka waktu yang cukup lama, seluruh kehidupan seseorang sejak masa kanak-kanak dan remaja merupakan masa kaderisasi untuk menjadi pemimpin dalam upaya membentuk pribadi, agar memiliki keungulan dalam aspek-aspek yang dibutuhkan untukl mampu bersaing. Kaderisasi disebut juga sebagai proses pendidikan termasuk proses belajar dilingkungan sekolah, pendidikan keluarga, peluang dalam kurikulum dalam program ekstrakurikuler serta lingkungan.
Factor yang mempengaruhi kegagalan seseorang pemimpin, pertama berada diluar diri yang bersangkutan, yaitu peluang menjadi pemimpin. Kedua factor dari dalam diri sendiri yaitu keberanian dan kemampuan menciptakan dan merebut kesempatan menjadi pemimpin.oleh sebab itu pemimpin terdahulu perlu membangun komunikasi dengan generasi muda, member contoh dan keteladanan, bimbingan dan arahan yang baik agar dapat menjadi teladan oleh generasi muda dalam mempersiapkan diri menjadi pemimpin.
2.        Kaderisasi formal
 formal adalah usaha mempersiapkan calon-calon pemimpin untuk masa depan secara terencana, teratur, dan sistematis dan terarah. Untuk itu proses kaderisasi mengikuti kurikulum yang telah di desain secara khusus yang harus dilaksanakan selama jangka waktu tertentu dan berisi bahan-bahan teoritis dan praktik tentang kepemimpinan dan bahan-bahan lain sebagai mendukung.[11]

Usaha kaderisasi internal yang bersifat formal dapat ditempuh dengan beberapa cara sebagai berikut:
1.      Memberikan kesempatan menduduki jabatan sebagai pemimpin yaitu, kaderisasi ini dilakukan dengan cara mengankat dan memberikan kesempatan secara formal kepada seseorang  calon pemimpin usia muda untuk memangku jabatan pemimpin.
2.      Latihan kepemimpinan didalam dan diluar organisasi
Yitu memberikan kesempatan kepada anggota organisasi untuk mengikuti program mempersiapkan calon pemimpin yang dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya magang, pelatihan.
3.      Memberikan tugas belajar
Untuk mempersiapkan calon pemimpin yang berkualitas perlu memberikan tugas belajar pada kader, untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam memimpin sehingga suatu saat siap mendudukui suatu jabatan pada jenjang masing-masing.
4.      Penugasan sebagai pucuk pimpinan suatu unit
Dilingkungan organisasi besar dengan memiliki cabang di daerah dapat dilaksanakan kaderisasi dengan memberikan penugasan seseorang menjadi pucuk pimpinan pada salah satu cabang atau perwakilan.[12]

Kaderisasi kepemimpinan secara formal bersifat eksternal dapat dilakukan sebagai berikut:
1.      Menyeleksi sejumlah generasi muda lulusan  lembaga pendidikan jenis dan jenjang tertentu, untuk diangkat menjadi pemimpin suatu unit yang sesuai, atau ditugaskan magang sebelum memimpin unit tersebut.
2.      Menyeleksi sejumlah generasi muda lulusan lembaga pendidikan jenis dan jenjang tertentu, kemudian ditugaskan melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebig tinggi didalam dan luar negeri.
3.      Memesan sejumlah generasi muda lulusan lembaga pendidikan formal dengan program khusus atau spesialisasi, sesuai bidang yang dikelola organisasi pemesan.
4.      Menerima sejumlah gemnerasi muda dari suatu lembaga pendidikan untuk melakukan kerja praktik dilingkungan organisasi.
5.      Memberikan beasiswa atau tunjangan belajar pada anak-anak yang kurang mampu yang berprestasi baik dilingkungan sekolah atau perguruan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.[13]

C.     HAK ASASI MANUSIA DALAM KEPEMIMPINAN
Hak asasi manusia (HAM) dirumuskan sepanjang abad ke XVII dan XVIII ini mempengaruhi oleh gagasan hukum alam (Natural Law) seperti dirumuskan oleh John Lock (1632 – 1778), J.J Rouseau (1712 – 1778) yang hanya membatasi kebebasan dalam bidang politik saja. Timbulnya gagasan mengenai HAM ini pada dasarnya merupakan akibat dari berkembangnya aliran rasionalisme. Dalam bidang politik, pemikiran rasionalisme ingin mencari dasar – dasar yang rasional bagi kekuasaan. Rasionalisme menolak dasar pemikiran absolutisme, bahwa kekuasaan raja berdasarkan agama (Devine Right of Kings). Sebaliknya, rasionalisme berpendapat hubungan antara raja dengan rakyat berdasarkan pertimbangan rasional. Untuk ini mereka kembangkan teori kontrak sosial. Dalam teori ini manusia dianggap mempunyai beberapa hak alami yang perlu dilindungi jika manusia tersebut ingin hidup secara beradab dan bermasyarakat. Untuk memperoleh perlindungan tersebut, manusia bersedia menyerahkan sebagian dari hak itu kepada raja atau pemimpin atas dasar semacam kontrak dengan ketentuan, bahwa manusia bersedia mentaati raja dan sebaliknya raja melindungi hak – hak rakyat. Akibat pemikiran ini mempengaruhi kebanyakan konstitusi pada abad ke XIX dan XX dengan mencantum hak – hak manusia dalam UUD sebagai jaminan dalam pelaksanaannya.[14]
Pada abad XX hak – hak politik di atas di anggap kurang sempurna dan mulai dicetuskan hak – hak lain yang cakupannya lebih luas. Salah satu diantaranya yang terkenal adalah 4 hak yang dirumuskan oleh presiden Amerika Serikat F.D Roosevelt, pada awal PD II yang dikenal nama The Four Freedoms (empat kebebesan) yaitu :[15]
a.       Kebebasan beragama,
b.      Kebebasan dari ketakutan,
c.       Kebebasan dari kemelaratan,
d.      Kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat.[16]

D.    PENINGKATAN KUALITAS KEPEMIMPINAN
Peningkatan kualitas kepemimpinan berarti usaha meningkatkan kualitas kepemimpinan harus dilakukan secara terus-menerus, mengingat kondisi kehidupan masyarakat yang dinamis. Usaha itu harus dimulai dari pengembangan kemampuan berpikirnya, agar berlangsung sebagai proses yang efektif, dalam membuat keputusan yang akan mengawali aktivitas kepemimpinan dalam mengerakkan orang-orang yang dipimpin.
Peningkatan kualitas kepemimpinan harus dilakukan sebagai usaha pengembangan kemampuan dalam memecahkan masalah, melalui proses mengikut sertakan atau meningkatkan peran serta orang-orang yang dipimpin. Dengan kata lain memberdayakan anggota dalam suatu organisasi yang dipimpin.
Usaha – usaha tersebut diantaranya:
1.      Berpikir Efektif dalam Menetapkan Keputusan
     Berfikir merupakan potensi psikis yang sangat istimewa, yang kualitasnya pada manusia jauh melampaui kemampuan berfikir yang diberikan Tuhan yang maha esa pada hewan, sebagai mahluk ciptaan-Nya yang sama-sama penghuni bumi. Dalam sejarah berfikir manusia ternyata dengan kemampuannya itu, manusia telah berusaha memikirkan segala sesuatu, termasuk juga berfikir mengenai proses berfikir itu sendiri.[17]
 Proses berpikir dalam diri seseorang, antara lain:
·         Berfikir yang bersifat intra-personal, yakni yang berlangsng di dalam psikis/otak seseorang, yang bersangkutan dengan atau untuk dirinya sendiri.
·         Berfikir yang bersifat inter-personal, yakni yang berlangsung di dalam psikis/otak seseorang, yang berhubungan dengan dan berakibat sesuatu pada orang lain.[18]
Ada beberapa indikator dalam berpikir efektif, yaitu:
·         Proses berpikir tidak boleh dlakukan secara emosional,
·         mempertimbangkan masukan dari orang lain(masukan/kritikan),
·         bersifat realistis, dan
·         bebas dari prasangka.[19]
2.      Mengkomunikasikan Hasil Berpikir
     Hasil berfikir seseorang yang cemerlang tidak ada artinya jika tidak dinyatakan dan dikomunikasikan. Hasil berfikir yang ada dalam pikiran tidak pernah diketahui orng lain selama tidak dinyatakan secara lisan atau tertulis atau bentuk tindakan/perilaku. Demikian juga bagi seseorang pemimpin, hasil berpikirnya tidak akan berfungsi dalam menggerakan anggota organisasinya, jika tidak dikomunikasikan secara efektif. [20]

3.      Meningkatkan Partisipasi dalam Memecahkan Masalah
     Kemampuan membina kerjasama berarti mampu mendorong dan memanfaatkan parsipasi anggota organisasi secara efektif dan efisien. Partispasi dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan, yang dapat disebuut sebagai partisipasi dalam memeahkan masalah. Hal ini aka bermuara pada pengembangan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas secara operasional. Partisipasi anggota kelompok dapat dibedakan menjadi dua yaitu fisik dan non fisik.[21]
4.      Menggali dan Meningkatkan Kreativitas
     Proses menggali dan meningkatkan kreativitas anggotaorganisasi dapat dilakukan dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan menilai kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. Usaha lain yang dapat dilakukan ialah dengan menimbulkan rasa bangga terhadap eberhasilan yang dicapai. Selanjutnya usaha menggali dan usaha tersebut dapat dilakukan dengan cara yang lebih formal dan bahkan cenderung bersifat ilmiah, dalam bentuk diskusi panel, seminar, lokakarya dan lain-lain antar anggota organisasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil menggali dan meningkatkan kreativitas itu merupakan umpan balik yang sangat berharga untuk dipegunakan dalam mengembangkan kegiatan yang menjadikan organisasi semakin dinamis.[22]
*      Penyebab-penyebab utama yang harus dihadapi oleh pemimpin yang berakibat anggota organisasi tidak kreatif dan inovatif, yaitu:’
a.       Suasana atau kondisi organisasi.
b.      Kepribadian anggota organisasi.
c.       Tekanan rekan sejawat.
d.      Sikap pimpinan pada jenjang bawahan.
e.       Kurang dorongan dan pelatihan.[23]

*      Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. [24] Selain itu pemimpin adalah orang yang kreatif dan berusaha untuk kreatif dalam bekerja, untuk itu pemimpin perlu melakukan upaya-upaya , sebagai berikut:
a.       Memberikan prioritas untuk pekerjaan sehari-hari untuk diberikan perhatian yang lebih besar.
b.      Dalam pengaturan waktu, sisihkan waktu yang lebih khusus untuk memikirkan pekerjaan.
c.       Pikirkan pekerjaan yang akan dilegalisasikan.
d.      Berikan kesempatan dan pertimbangan saran dari anggota organisasi atau orang luar.
e.       Sediakan juga waktu untuk membawa bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan dari berbagai sumber.
f.       Sediakan waktu untuk mengikuti kegiatan pelatihan dalam arti luas.[25]

*      Beberapa idea tau pemikiran mendasar yang harus dimiliki oleh pemimpin dalam meningkatkan kualitas berpikir, yaitu:\
a.       Pemikiran tentang pekerjaan mannajerial.
b.      Pemikiran tentang kepemimpinan.
c.       Pemikiran karier manajerial.
d.      Pemikiran peranan professional SDM.
e.       Pemikiran tentang pengelolaan tentang global.
f.       Pemikiran sumber-sumber keunggulan kompetitif.[26]


BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Kaderisasi kepemimpinan adalah proses mempersiapkan seseorang menjadi pemimpin penganti di masa depan yang akan memikul tanggung jawab penting dan besar dalam lingkungan suatu organisasi. Dalam pelaksanaannya proses kaderisasi terdiri dari dua macam yaitu: kaderisasi informal dan kaderisasi formal.
Pada abad XX hak – hak politik di atas di anggap kurang sempurna dan mulai dicetuskan hak – hak lain yang cakupannya lebih luas. Salah satu diantaranya yang terkenal adalah 4 hak yang dirumuskan oleh presiden Amerika Serikat F.D Roosevelt, pada awal PD II yang dikenal nama The Four Freedoms (empat kebebesan) yaitu :[27]Kebebasan beragama,
Kebebasan dari ketakutan, Kebebasan dari kemelaratan, Kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat.[28]
Peningkatan kualitas kepemimpinan berarti usaha meningkatkan kualitas kepemimpinan harus dilakukan secara terus-menerus, mengingat kondisi kehidupan masyarakat yang dinamis. Usaha itu harus dimulai dari pengembangan kemampuan berpikirnya, agar berlangsung sebagai proses yang efektif, dlam membuat keputusan yang akan mengawali aktivitas kepemimpinan dalam mengerakkan orang-orang yang dipimpin. Usaha – usaha tersebut diantaranya: Berpikir Efektif dalam Menetapkan Keputusan, Mengkomunikasikan Hasil Berpikir, Meningkatkan Partisipasi dalam Memecahkan Masalah, Menggali dan Meningkatkan Kreativitas.








DAFTAR PUSTAKA


Rivai, veithzal. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi.2007.Jakarta: PT. Raja Gravindo Persadda.














[4] Ibid

[6] ibid
[7] ibid
[9] ibid
[11] ibid
[15] Ibid

[18] ibid
[20] Ibid

[21] Ibid

[26] Ibid

[27] Ibid